JAKARTA – Tawuran remaja sudah seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Banyak pihak telah mengupayakan pencegahan tawuran antar remaja khususnya di wilayah Johar Baru mulai dari sekolah hingga pihak berwajib.
Seperti yang dilakukan Kanit Reskrim Polsek Johar Baru, AKP M. Rasid terus mencari formula yang tepat agar dapat tawuran di Johar Baru bisa teratasi dengan baik.
AKP M. Rasid mengatakan, pada kenyataannya, tawuran khususnya yang memasuki usia remaja masih saja terjadi. Tak hanya merugikan mereka sendiri, tetapi juga merugikan orang lain, karena banyak fasilitas umum dan aset milik masyarakat yang turut menjadi sasaran.
“Faktor pemicu tawuran terjadi bisa berkaitan dengan psikologis yang muncul melalui proses penemuan jati diri yang keliru. Mereka krisis identitas, lemahnya kontrol diri dan tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan sosial,” ujar AKP M Rasid, Sabtu, (1/06/2024).
Faktor internal meliputi realisasi frustasi negatif, gangguan pengamatan dan tanggapan pada diri remaja, serta gangguan emosional/perasaan pada diri remaja. Tawuran pada dasarnya terjadi karena remaja tidak berhasil mengontrol dirinya sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figur teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Jadi di sinilah peran orang tua sebagai penunjuk jalan.
Bahwa upaya preventif harus dilakukan bersama – sama yaitu tindakan berupa mengadakan penyuluhan ke sekolah – sekolah yang rawan melakukan tawuran, peran orang tua, dan masyarakat sekitar yang siap setiap saat menangi tawuran karena masyarakat adalah garda terdepan.
“Upaya represif yang dilakukan pihak sekolah yaitu memberikan nasehat dan teguran, memberikan hukuman ringan, pemanggilan orang tua, serta melakukan tindakan kuratif yaitu dengan melakukan skorsing dan pengembalian kepada orang tua.” Pungkas AKP M. Rasid.

Tinggalkan Balasan